Senin, 14 November 2011

Pengalaman dg Flexinet EV-DO

Seorang teman nitip ke saya untuk dibelikan pesawat HP Flexi di Pameran Indocomtech 2011. Mujur, saya berhasil mendapatkan Flexi Android, ZTE.

Saya coba dulu koneksi Flexinet EV DOnya dengan hasil yg cukup mengejutkan.

IP address yg didapat adalah 222.124.198.122 dengan downrate 2,04 Mbps dan upload rate 0,37 Mbps. Saya kira ini hasil yg mengejutkan dari EV DO Flexinet

Senin, 23 November 2009

Speedy Multispeed Luar Biasa !

Saya baru saja migrasi Speedy dari paket lama Office ke Paket baru BIZ 3 Mbps.
Hasil test saya sungguh luar biasa, (di bawah ini cuplikan dari speedtest pertanggal 20 Nopember 2009, sekitar pk 08.30). Hasil test dg speedtest di http://www.telkomspeedy.com/ juga memberi hasil tidak jauh berbeda, artinya alat ukur Telkom cukup akurat.

Masalahnya sekarang tinggal apakah Telkom bisa menjaga kestabilan koneksi seperti ini. Kita lihat saja.......














































































Sabtu, 07 November 2009

TELKOMSEL Flash vs TELKOMSpeedy (2)

Idealnya test dilakukan secara rutin periodik, untuk bisa mendapatkan gambar yg cukup valid mengenai performansi sebuah layanan. Menyambung testing saya pada Juni lalu, saya mengulang test serupa: TELKOMSEL Flash vs Speedy.

Waktu testing adalah Sabtu malam- Minggu dinihari tgl 7 - 8 Nopember 2009, dari lokasi Pondok Kelapa, Jakarta Timur, waktu berkisar pk 23.30 - 24.00



Hasil test menunjukkan bahwa untuk 3 kota tujuan, Singapura, Kuala Lumpur dan Hong Kong, Speedy unggul untuk downstream sedangkan Flash unggul untuk upstreamnya.

Jumat, 19 Juni 2009

TELKOMSEL Flash vs TELKOMSpeedy

Hasil test terakhir saya yang sangat mengejutkan mengenai kecepatan Flash Telkomsel menginspirasi saya untuk melakukan test perbandingan. Saya lakukan komparasi, test kecepatan pada saat yang sama menggunakan Speedy dan Flash Telkomsel.

Waktu pengetesan adalah Jumat, 19 Juni 2009, waktu antara pk 14.00 s/d 15.15 dari lokasi kota Palembang.

Hasilnya adalah sbb:










Flash Telkomsel menyolok untuk tujuan Hong Kong sementara Speedy untuk tujuan Jakarta, namun secara umum Speedy masih lebih unggul.

Berikut ini hasil capture dari http://speedtest.net/

Speedy:




















Telkomsel Flash:





















Kamis, 18 Juni 2009

TELKOMSEL Flash cepat ke Singapura

Awal pertama saya menguji kecepatan TELKOMSEL Flash dulu sekitar Februari 2009, kecepatan berkisar 400-500 kbps saja. Tapi di bulan Juni ini saya test hasilnya cukup mengejutkan.

Hasil test saya pada 11 Juni lalu dari lokasi Palembang sekitar pk 14.10 untuk tujuan Singapura memberi hasil downstream/upstream sebesar 850/60 kbps. Sementara Hong Kong 570/60 kbps. Yang aneh tujuan domestik Jakarta justru lebih kecil sekitar 390/60 kbps.



Jumat, 22 Mei 2009

Berapa kecepatan maksimum Speedy



Berapa kecepatan maksimum Speedy, ini pertanyaan menarik sekaligus sulit mendapatkan jawabannya. Telkom tentu akan mengatakan bahwa kecepatan maksimum Speedy adalah 1 Mbps, sesuai promonya up to 1 Mbps. Bagi pelanggan pertanyaannya adalah apakah betul Speedy bisa mencapai kecepatan setinggi itu, kapan dan seberapa sering ?

Untuk mendapatkan jawaban sekali lagi satu-satunya cara adalah dengan melakukan test langsung. Saya melakukan test pada hari Kamis-Jumat tanggal 21-22 Mei 2009. Lokasi test dari Jakarta dengan Speedy time based nomor 1211062003xx.

Pada Kamis malam 21 Mei 2009 pk 20.54, hasil speedtest ke Singapura downstream/upstream diperoleh 180/190 kbps, sedangkan untuk Kuala Lumpur adalah 230/170 kbps. Ini hasil yg cukup mengecewakan karena saya berharap angka di kisaran 400-500 kbps untuk downstream.

Pada Jumat dinihari 22 Mei 2009 pk 01.20 hasil speedtest untuk Singapura menunjukkan angka 1.010/200 kbps sedangkan Kuala Lumpur adalah 880/210 kbps. Ini angka yang fantastis, bahkan bisa menembus bahasa promonya.










Test masih berlanjut hingga Jumat sore 22 Mei 2009 pk 15.55 dimana untuk Singapura didapat 380/170 kbps dan Kuala Lumpur didapat 420/160 kbps. hasil yg sangat oke untuk jam-jam sibuk.

Kesimpulan akhir saya, kecepatan Speedy masih sangat bagus, kecepatan maksimum bahkan bisa menembus > 1 Mbps, khususnya pada saat low trafik sekitar dinihari.

Tentu hasil test satu kali belum cukup valid, oleh sebab itu saya ajak Anda untuk melakukan test langsung/

Sabtu, 28 Februari 2009

Kompas menyudutkan Speedy

Saya cukup kaget membaca satu artikel di harian Kompas, 26 Februari 2009, Kolom Liputan Khusus Teknologi Informasi halaman 36. Artikel berjudul Akses Maksimal.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa Speedy sebagai masuk kategori slowband karena layanan tidak memadai dan teknologi kabel telepon yg sudah usang.

Tiga komentar saya:
1. Apa kategorinya slowband dan bagaimana hasil ukur Kompas terhadap kecepatan Speedy.
2. Apa yg dimaksud dengan layanan tidak memadai ?
2. Apa betul teknologi Speedy sudah usang ?

Pertama. Kompas harus jelas dalam menyebutkan apa yg dimaksud dalam batasan slowband. Kemudian Kompas juga harus mencantumkan hasil ukurnya. Perlu diingat di sini bahwa layanan Speedy tersedia hampir di seluruh Indonesia bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Artinya hasil ukur juga harus dibuat sedpat mungkin mewakili seluruh area yang dilayani Speedy. Tidak bisa hanya di kota-kota saja atau di desa-desa saja. Di sini Kompas juga harus menjelaskan metode pengukurannya.

Kedua. Layanan apa yg tidak memadai ?, apakah layanan pre sales, after sales, atau performansi Speedynya sendiri, lalu performansi apa yang dimaksud apakah kecepatan atau stabilitas atau apa. Di sini juga harus dilihat secara keseluruhan. Tidak bisa potret layanan Speedy di Jakarta misalnya digeneralisasi menjadi bersifat umum untuk seluruh Indonesia.

Ketiga. Teknologi usang ? What's the point ? Teknologi HDSL/ADSL mulai dikembangkan sekitar tahun 1990 yg telah berhasil melewatkan broadband trafik melalui kabel tembaga/copper yang sdh digunakan puluhan tahun. Bila dilihat umurnya mungkin sudah usang ? Tapi justru dengan memanfaatkan teknologi ADSL maka jaringan tembaga yg sdh dibangun puluhan tahun justru dapat dioptimalkan. Termasuk pula dpt dimanfaatkan jaringan tembaga yg sdh menjangkau berbagai pelosok di Indonesia.

Sayang sekali bahwa harian sekelas Kompas dan wartawan kawakan sekaliber Rene L Pattiradjawane membuat artikel yang menyudutkan produk Telkom tanpa penjelasan dan bukti memadai.